KKN Kelompok 132 UIN SAIZU Gagas Road Map Briket Kelapa Menuju Kemandirian Ekonomi Desa

28 Agustus 2026
Administrator
Dibaca 24 Kali
KKN Kelompok 132 UIN SAIZU Gagas Road Map Briket Kelapa Menuju Kemandirian Ekonomi Desa

Pangandaran, Jawa Barat. Rabu, 19 Agustsu 2026 — Sebuah gagasan ekonomi desa tidak cukup hanya berhenti pada sebuah produk. Ia membutuhkan arah, tahapan, dan keberlanjutan. Dari pemikiran itulah KKN Kelompok 132 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto menggagas road map pengembangan briket arang batok kelapa di Desa Parakanmanggu, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.

Road map tersebut dirancang sebagai peta jalan bertahap untuk membawa briket dari skala pengenalan teknologi hingga berkembang menjadi produk unggulan desa yang memiliki daya saing lebih luas. Bukan sekadar agenda produksi, rancangan ini menempatkan keberlanjutan usaha, kelembagaan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi sirkular sebagai bagian dari perjalanan jangka panjang.

Dalam rancangan tersebut, perjalanan pengembangan briket dibagi ke dalam enam tahap utama, dengan setiap tahap memiliki fokus, target, dan keluaran yang berbeda. Tahapan itu dimulai sejak masa KKN dan diproyeksikan terus berkembang hingga tahun ketiga dan seterusnya.

Langkah Pertama Dimulai dari Pengetahuan

Tahap pertama berlangsung selama masa KKN melalui pengenalan teknologi briket. Sosialisasi program, workshop pembuatan briket, hingga demonstrasi pembakaran arang batok kelapa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan teknologi tersebut kepada masyarakat.

Target awalnya sederhana tetapi fundamental: masyarakat memahami bagaimana briket arang batok kelapa dibuat.

Tahap ini menjadi fondasi karena keberlanjutan sebuah inovasi sangat bergantung pada pengetahuan yang tersisa di masyarakat setelah program pendampingan berakhir.

Dari sini, road map kemudian bergerak menuju tahap kedua, yakni produksi rumahan selama 0–6 bulan. Masyarakat diarahkan untuk mulai memanfaatkan limbah batok kelapa melalui produksi manual dalam skala percontohan. Pada fase ini, kualitas produk juga mulai diuji dan komposisinya diperbaiki agar tersedia briket skala kecil yang siap digunakan.

Dari Rumah ke Kelompok Produksi

Jika tahap awal berfokus pada kemampuan individu dan rumah tangga, fase berikutnya mulai menggeser orientasi menuju kelembagaan produksi.

Memasuki periode 6–12 bulan, masyarakat dan pemuda diarahkan untuk membentuk kelompok produksi. Pembagian peran, penyediaan alat sederhana, serta standardisasi proses menjadi bagian dari tahap ini.

Targetnya bukan sekadar menghasilkan lebih banyak briket, melainkan membentuk kelompok produsen yang memiliki struktur kerja yang jelas. Dengan demikian, aktivitas produksi mulai memiliki fondasi organisasi dan tidak bergantung pada satu atau dua orang saja.

Memasuki Arena Komersial

Setelah fondasi produksi dan kelompok usaha terbentuk, road map memasuki fase pengembangan usaha pada tahun pertama hingga kedua.

Di tahap ini, briket mulai diarahkan untuk memasuki pasar. Desain kemasan dan branding disiapkan, skema harga kompetitif dirumuskan, sementara jalur pemasaran diarahkan kepada UMKM kuliner, rumah tangga, hingga tempat wisata.

Targetnya jelas: briket tidak lagi hanya menjadi produk hasil pelatihan, tetapi berkembang menjadi produk komersial dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Di sinilah gagasan KKN Kelompok 132 mulai bergerak dari ranah pemberdayaan menuju ranah kewirausahaan. Produk tidak hanya harus bisa dibuat, tetapi juga harus mampu menemukan konsumen.

Ketika Desa Mulai Menjadi Rumah bagi Usaha

Tahap keempat kemudian membuka jalan menuju integrasi dengan BUMDes pada tahun kedua hingga ketiga.

BUMDes diproyeksikan menjadi pengelola atau mitra utama dalam pengembangan usaha. Untuk mendukung proses tersebut, diperlukan penyusunan SOP operasional dan manajemen, pencatatan serta pembukuan keuangan, hingga pengadaan mesin atau alat produksi yang lebih modern.

Jika tahap ini berjalan sesuai rancangan, briket tidak lagi berdiri sebagai kegiatan ekonomi informal, melainkan memiliki unit usaha resmi di bawah BUMDes.

Perubahan ini penting karena keberlanjutan usaha desa tidak hanya membutuhkan produk dan pasar, tetapi juga kelembagaan yang mampu mengelolanya.

Tiga Tahun dan Seterusnya: Menuju Produk Unggulan

Road map tersebut tidak berhenti ketika unit usaha terbentuk. Memasuki tahun ketiga dan seterusnya, pengembangan diarahkan menuju skala yang lebih luas melalui konsep industri dan ekonomi sirkular desa.

Jaringan rantai pasok dan pemasaran ditargetkan untuk diperluas, kapasitas produksi ditingkatkan, serta kerja sama strategis dengan industri dan mitra dari luar desa mulai dibangun.

Pada tahap inilah briket ditargetkan naik kelas: dari produk percontohan menjadi produk unggulan desa yang memiliki daya saing luas.

Sebuah Peta Jalan, Bukan Janji Instan

Meski memiliki proyeksi hingga tahun ketiga dan seterusnya, road map tersebut tidak diposisikan sebagai skema yang kaku. Rancangannya tetap dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan, termasuk ketersediaan bahan baku, kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan kelembagaan yang tersedia di desa.

Pendekatan tersebut membuat gagasan pengembangan briket memiliki ruang untuk tumbuh secara realistis. Sebab, kemandirian ekonomi tidak lahir dalam satu malam. Ia dibangun melalui pengetahuan, percobaan, konsistensi produksi, pembentukan kelompok, keberanian memasuki pasar, hingga hadirnya kelembagaan yang mampu menjaga keberlanjutannya.

Bagi KKN Kelompok 132 UIN SAIZU, briket kelapa akhirnya bukan sekadar hasil dari sebuah kegiatan pengabdian. Ia menjadi sebuah gagasan tentang bagaimana potensi lokal dapat disusun menjadi perjalanan ekonomi yang terarah.

Dari workshop di masa KKN, menuju produksi rumahan. Dari produksi rumahan, menuju kelompok usaha. Dari kelompok usaha, menuju pasar. Dari pasar, menuju BUMDes. Dan dari sana, terbuka jalan menuju satu visi yang lebih besar: menjadikan briket sebagai bagian dari mesin ekonomi Desa Parakanmanggu.

Sebab, desa yang mandiri bukan hanya desa yang memiliki sumber daya. Desa yang mandiri adalah desa yang mampu mengubah sumber dayanya menjadi nilai, mengelolanya secara kelembagaan, dan menjaga agar nilai tersebut terus tumbuh di tengah masyarakat.

Pangandaran, Jawa Barat. Rabu, 19 Agustsu 2026 — Sebuah gagasan ekonomi desa tidak cukup hanya berhenti pada sebuah produk. Ia membutuhkan arah, tahapan, dan keberlanjutan. Dari pemikiran itulah KKN Kelompok 132 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto menggagas road map pengembangan briket arang batok kelapa di Desa Parakanmanggu, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.

Road map tersebut dirancang sebagai peta jalan bertahap untuk membawa briket dari skala pengenalan teknologi hingga berkembang menjadi produk unggulan desa yang memiliki daya saing lebih luas. Bukan sekadar agenda produksi, rancangan ini menempatkan keberlanjutan usaha, kelembagaan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi sirkular sebagai bagian dari perjalanan jangka panjang.

Dalam rancangan tersebut, perjalanan pengembangan briket dibagi ke dalam enam tahap utama, dengan setiap tahap memiliki fokus, target, dan keluaran yang berbeda. Tahapan itu dimulai sejak masa KKN dan diproyeksikan terus berkembang hingga tahun ketiga dan seterusnya.

Langkah Pertama Dimulai dari Pengetahuan

Tahap pertama berlangsung selama masa KKN melalui pengenalan teknologi briket. Sosialisasi program, workshop pembuatan briket, hingga demonstrasi pembakaran arang batok kelapa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan teknologi tersebut kepada masyarakat.

Target awalnya sederhana tetapi fundamental: masyarakat memahami bagaimana briket arang batok kelapa dibuat.

Tahap ini menjadi fondasi karena keberlanjutan sebuah inovasi sangat bergantung pada pengetahuan yang tersisa di masyarakat setelah program pendampingan berakhir.

Dari sini, road map kemudian bergerak menuju tahap kedua, yakni produksi rumahan selama 0–6 bulan. Masyarakat diarahkan untuk mulai memanfaatkan limbah batok kelapa melalui produksi manual dalam skala percontohan. Pada fase ini, kualitas produk juga mulai diuji dan komposisinya diperbaiki agar tersedia briket skala kecil yang siap digunakan.

Dari Rumah ke Kelompok Produksi

Jika tahap awal berfokus pada kemampuan individu dan rumah tangga, fase berikutnya mulai menggeser orientasi menuju kelembagaan produksi.

Memasuki periode 6–12 bulan, masyarakat dan pemuda diarahkan untuk membentuk kelompok produksi. Pembagian peran, penyediaan alat sederhana, serta standardisasi proses menjadi bagian dari tahap ini.

Targetnya bukan sekadar menghasilkan lebih banyak briket, melainkan membentuk kelompok produsen yang memiliki struktur kerja yang jelas. Dengan demikian, aktivitas produksi mulai memiliki fondasi organisasi dan tidak bergantung pada satu atau dua orang saja.

Memasuki Arena Komersial

Setelah fondasi produksi dan kelompok usaha terbentuk, road map memasuki fase pengembangan usaha pada tahun pertama hingga kedua.

Di tahap ini, briket mulai diarahkan untuk memasuki pasar. Desain kemasan dan branding disiapkan, skema harga kompetitif dirumuskan, sementara jalur pemasaran diarahkan kepada UMKM kuliner, rumah tangga, hingga tempat wisata.

Targetnya jelas: briket tidak lagi hanya menjadi produk hasil pelatihan, tetapi berkembang menjadi produk komersial dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Di sinilah gagasan KKN Kelompok 132 mulai bergerak dari ranah pemberdayaan menuju ranah kewirausahaan. Produk tidak hanya harus bisa dibuat, tetapi juga harus mampu menemukan konsumen.

Ketika Desa Mulai Menjadi Rumah bagi Usaha

Tahap keempat kemudian membuka jalan menuju integrasi dengan BUMDes pada tahun kedua hingga ketiga.

BUMDes diproyeksikan menjadi pengelola atau mitra utama dalam pengembangan usaha. Untuk mendukung proses tersebut, diperlukan penyusunan SOP operasional dan manajemen, pencatatan serta pembukuan keuangan, hingga pengadaan mesin atau alat produksi yang lebih modern.

Jika tahap ini berjalan sesuai rancangan, briket tidak lagi berdiri sebagai kegiatan ekonomi informal, melainkan memiliki unit usaha resmi di bawah BUMDes.

Perubahan ini penting karena keberlanjutan usaha desa tidak hanya membutuhkan produk dan pasar, tetapi juga kelembagaan yang mampu mengelolanya.

Tiga Tahun dan Seterusnya: Menuju Produk Unggulan

Road map tersebut tidak berhenti ketika unit usaha terbentuk. Memasuki tahun ketiga dan seterusnya, pengembangan diarahkan menuju skala yang lebih luas melalui konsep industri dan ekonomi sirkular desa.

Jaringan rantai pasok dan pemasaran ditargetkan untuk diperluas, kapasitas produksi ditingkatkan, serta kerja sama strategis dengan industri dan mitra dari luar desa mulai dibangun.

Pada tahap inilah briket ditargetkan naik kelas: dari produk percontohan menjadi produk unggulan desa yang memiliki daya saing luas.

Sebuah Peta Jalan, Bukan Janji Instan

Meski memiliki proyeksi hingga tahun ketiga dan seterusnya, road map tersebut tidak diposisikan sebagai skema yang kaku. Rancangannya tetap dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan, termasuk ketersediaan bahan baku, kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan kelembagaan yang tersedia di desa.

Pendekatan tersebut membuat gagasan pengembangan briket memiliki ruang untuk tumbuh secara realistis. Sebab, kemandirian ekonomi tidak lahir dalam satu malam. Ia dibangun melalui pengetahuan, percobaan, konsistensi produksi, pembentukan kelompok, keberanian memasuki pasar, hingga hadirnya kelembagaan yang mampu menjaga keberlanjutannya.

Bagi KKN Kelompok 132 UIN SAIZU, briket kelapa akhirnya bukan sekadar hasil dari sebuah kegiatan pengabdian. Ia menjadi sebuah gagasan tentang bagaimana potensi lokal dapat disusun menjadi perjalanan ekonomi yang terarah.

Dari workshop di masa KKN, menuju produksi rumahan. Dari produksi rumahan, menuju kelompok usaha. Dari kelompok usaha, menuju pasar. Dari pasar, menuju BUMDes. Dan dari sana, terbuka jalan menuju satu visi yang lebih besar: menjadikan briket sebagai bagian dari mesin ekonomi Desa Parakanmanggu.

Sebab, desa yang mandiri bukan hanya desa yang memiliki sumber daya. Desa yang mandiri adalah desa yang mampu mengubah sumber dayanya menjadi nilai, mengelolanya secara kelembagaan, dan menjaga agar nilai tersebut terus tumbuh di tengah masyarakat.